Rabu, 09 November 2011

IWAN fals








Aku lahir tanggal 3 September 1961. Kata ibuku, ketika
aku berumur bulanan, setiap kali mendengar suara
adzan maghrib aku selalu menangis. Aku nggak tau
kenapa sampai sekarang pun aku masih
gambang menangis. Biar begini-begini, aku
orangnya lembut dan gampang tersentuh. Sebagai
contoh, menyaksikan berita di televisi yang
memberitakan ada orang sukses lalu
medapatkan penghargaan atas prestasinya, aku pun
bisa menangis. Melihat seorang ibu yang menunjukkan
cinta kasihnya pada anaknya, juga bisa membuat
aku tersentuh dan lalu menangsi.
Bicara perjalanan karir musikku, dimulai ketika aku
aktif ngamen di Bandung. Aku mulai ngamen ketika
berumur 13 tahun. Waktu itu aku masih SMP. Aku
belajar main gitar dari teman-teman nongkrongku.
Kalau mereka main gitar aku suka memperhatikan. Tapi
mau nanya malu. Suatu hari aku nekat memainkan gitar
itu. Tapi malah senarnya putus.
Aku dimarahi.


Sejak saat itu, gitar seperti terekam kuat dalam ingatanku. Kejadian itu begitu membekas
dalam ingatanku.
Dulu aku pernah sekolah di Jeddah, Arab Saudi, di KBRI selama 8 bulan. Kebetulan di sana
ada saudara orang tuaku yang nggak punya anak. Karena tinggal di negeri orang, aku merasakan
sangat membutuhkan hiburan. Hiburan satu-satunya bagiku adalah gitar yang kubawa dari Indonesia.
Saat itu ada dua lagu yang selalu aku mainkan, yaitu Sepasang Mata Bola dan Waiya.
Waktu pulang dari Jeddah pas musim Haji. Kalau di pesawat orang-orang pada bawa air zam-zam
aku cuma menenteng gitar kesayanganku. Dalam perjalanan dalam pesawat dari Jeddah
ke Indonesia, pengetahuan gitarku bertambah. Melihat ada anak kecil bawa gitar di pesawat,
membuat
seorang pramugari heran. Pramugari itu lalu menghampiriku dan meminjam gitarku. Tapi begitu
baru akan memainkan, pramugari itu heran. Soalnya suara gitarku fals. "Kok kayak gini
steman-nya?" tanyanya. Waktu itu, meski sudah bisa sedikit-sedikit aku memang belum bisa
nyetem gitar.
Setelah membetulkan gitarku, pramugari itu lalu mengajariku memainkan lagu Blowing in
the Wind-nya
Bob Dylan.
Waktu sekolah di SMP 5 Bandung aku juga
punya pengalaman menarik dengan gitar. Suatu
ketika, seorang guruku menanyakan apakah ada yang
bisa memainkan gitar. Meski belum begitu pintar, tapi
karena ada anak perempuan yang jago memainkan
gitar, aku menawarkan diri. "Gengsi dong," pikirku
waktu itu. Maka jadilah aku pemain gitar
di vokal grup sekolahku.
Kegandrunganku pada gitar terus berlanjut. Saat
itu teman-teman mainku juga suka memainkan gitar.
Biasanya mereka memainkan lagu-lagu Rolling Stones.
Melihat teman-temanku jago main gitar, aku jadi iri
sendiri. Aku ingin main gitar seperti mereka. Daripada
nggak diterima di pergaulan, sementara aku nggak
bisa memainkan lagu-lagu Rolling Stones, aku
nekat memainkan laguku sendiri. Biar jelek-jelek,
yang penting lagu ciptaanku sendiri, pikirku.
Untuk menarik perhatian teman-temanku, aku membuat lagu-lagu yang liriknya lucu, humor,
bercanda-canda, merusak lagu orang. Mulailah teman-temanku pada ketawa mendengarkan laguku.
Setelah merasa bisa bikin lagu, apalagi bisa bikin orang tertawa, timbul keinginan untuk
mencari pendengar lebih banyak. Kalau ada hajatan, kawinan, atau sunatan, aku datang
untuk menyanyi. Dulu manajernya Engkos, yang tukang bengkel sepeda motor. Karena kerja
di bengkel yang banyak didatangi orang, dia selalu tahu kalau ada orang yang punya hajatan.
Di SMP aku sudah merasakan betapa pengaruh musik begitu kuat. Mungkin karena aku nggak
punya uang, nggak dikasih kendaraan dari orang tua untuk jalan-jalan, akhirnya perhatianku
lebih banyak tercurah pada gitar. Sekolahku mulai nggak benar. Sering bolos, lalu pindah sekolah.
Aku merasakan gitar bisa menjawab kesepianku. Apalagi ketika sudah merasa bisa bikin lagu,
dapat duit dari ngamen, mulailah aku sombong. Tetapi sesungguhnya semuanya itu kulakukan
untuk mencari teman, agar diterima dalam pergaulan.
Suatu ketika ada orang datang ke Bandung dari Jakarta. Waktu itu aku baru sadar kalau ternyata
lagu yang kuciptakan sudah terkenal di Jakarta. Maksudku sudah banyak anak muda yang
memainkan laguku itu. Malah katanya ada yang mengakui lagu ciptaanku.
Sebelum orang Jakarta yang punya kenalan produser itu datang ke Bandung, aku sebetulnya
sudah pernah rekaman di Radio 8 EH. Aku bikin lagu lalu diputar di radio itu. Tapi radio itu kemudian
dibredel.
Setelah kedatangan orang Jakarta itu, atas anjuran teman-temanku, aku pergi ke Jakarta. Waktu
itu aku masih sekolah di SMAK BPK Bandung. Sebelum ke Jakarta aku menjual sepeda motorku
untuk membuat master. Aku tidak sendirian. Aku bersama teman-teman
dari Bandung: Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul.
Kami lalu rekaman. Ternyata kasetnya tidak laku. Ya, sudah, aku ngamen
lagi, kadang-kadang ikut festival. Setelah dapat juara di festival musik
country , aku ikut festival lagu humor. Kebetulan dapat nomor.
Oleh Arwah Setiawan (almarhum) lagu-lagu humorku lalu direkam,
diproduseri Handoko. Nama perusahaannya ABC Records. Aku rekaman
ramai-ramai, sama Pepeng (kini pembawa acara kuis Jari-jari, jadi
MC, dll), Krisna, dan Nana Krip. Tapi rekaman ini pun tak begitu sukses.
Tetap minoritas. Hanya dikonsumsi kalangan tertentu saja, seperti
anak-anak muda.
Akhirnya aku rekaman di Musica Studio. Sebelum ke Musica, aku sudah
rekaman sekitar 4 sampai 5 album. Setelah rekaman di Musica itu,
musikku mulai digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya,
musiknya ditangani Willy Soemantri.
(diambil dari iwanfals.co.id)
Nama asli: Virgiawan Listanto
Nama populer: Iwan Fals
Nama panggilan: Tanto
Tempat tgl. lahir: Jakarta, 3 September 1961
Alamat sekarang: Jl. Desa Leuwinanggung No. 19 Cimanggis,
Bogor Jawa Barat - Indonesia
Pendidikan:
SMP 5 Bandung,
SMAK BPK Bandung,
STP (Sekolah Tinggi Publisistik, sekarang IISIP),
Institut Kesenian Jakarta (IKJ)
Anak:
Galang Rambu Anarki (almarhum)
Anissa Cikal Rambu Basae
Rayya Rambu Robbani
Hobi: sepakbola, karate





Iwan Fals Selami Islam di Pesantren Pandanaran

“Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintang untuk aku anakmu. Ibuku sayang masih terus berjalan, walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah…”.
Alunan lagu yang mengajak setiap pendengar menghormati seorang ibu itu biasanya terdengar di tape, radio atau nada dering telepon genggam. Tapi malam itu, sang pelantun, Iwan Fals, membawakannya langsung di hadapan para santri Pesantren Sunan Pandanaran.
Kali ini, pemilik nama asli Virgiawan Listanto itu tidak sedang konser untuk memenuhi hasrat anak muda yang tenggelam dalam hura-hura. Tetapi bersama santri ingin menyelami nilai-nilai keislaman lewat lagu yang pernah ia ciptakan. Maka, lagu pembuka bertema Ibu ia bawakan untuk mengajak semua pendengar menjunjung tinggi harkat ibu yang begitu dihormati dalam ajaran Islam.
Malam itu, 26 April 2010, suasana di Komplek al-Khandaq memang berbeda dari hari-hari biasanya. Para santri melewati malam di tengah hingar-bingar suara musik rock yang dipadu dengan musik Jawa, racikan grup musik Ki Ageng Ganjur. Menurut Zastrouw al-Ngatawi, pimpinan Ki Ageng Ganjur, konser tersebut merupakan rangkaian dakwah menyebarkan ajaran Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.
Zastrouw menyampaikan pesan-pesan agama dalam bingkai ceramah budaya, sedangkan Bang Iwan, panggilan akrab Iwan Fals, melantunkan lagu-lagu bernafas keislaman. Perpaduan keduanya menghasilkan model dakwah “gaya baru”. Tetapi justru berhasil menyihir para santri, hingga mereka betah berlama-lama duduk termangu di atas rumput tanpa alas.
Sesaat sebelum Iwan Fals tampil di panggung, Zastrouw mengatakan bahwa esensi dari syair lagu Iwan selaras dengan ayat-ayat Al-Quran. “Kepekaan batin Mas Iwan melahirkan lagu-lagu yang selaras dengan ayat-ayat Al-Qur’an,” kata lelaki yang selalu mengenakan blangkon ini.
Zastrouw mengaitkan syair-syair lagu Iwan Fals dengan kisah-kisah yang masyhur di telinga umat Islam. Lagu Ibu, misalnya, mengingatkan kita pada hadis Nabi yang menyebut “ibu” sebanyak tiga kali, baru kemudian beliau menyebut “ayah” yang hanya sekali ketika ditanya tentang siapa orang yang paling berhak dihormati.
Setelah Zastrouw selesai menyampaikan nilai keislaman dalam lagu Ibu tersebut, Iwan pun keluar menuju panggung yang disambut teriakan dan tepuk tangan para santri dan OI (penggemar Iwan Fals).
Malam itu Iwan Fals tampil sangat sederhana. Ia hanya mengenakan kaos oblong putih, syal biru melilit di leher, plus celana bercorak batik. Tak ketinggalan, ia menenteng gitar dengan lubang resonansi menyerupai buah jeruk.
Saat melantunkan tembang Ibu, raut muka Iwan tampak sangat serius. Tidak sedikit pun senyum yang tersungging dari bibirnya. Boleh jadi, itulah perasaan terdalam yang ingin ia bagi kepada para pendengar.
KH Mu’tashim Billah, pengasuh Pesantren Pandanaran, mengaku takjub akan daya magis yang dimiliki seorang Iwan Fals. Beliau mengungkapkan, banyak santri yang seolah-olah ruhnya ikut bernyanyi ketika Iwan Fals beraksi di atas panggung.
Iwan Fals memang dikenal sebagai musisi yang menciptakan lagu untuk menyuarakan suara hati dan pikirannya. Ide dan pikiran yang berkecamuk di kepalanya ia tuangkan ke dalam lagu. Termasuk juga tentang pengalaman spiritualitas. Tak mengherankan jika lagu-lagu Iwan Fals terkini banyak mengangkat tema religi, bukan lagi tentang “pemberontakan” seperti dulu. Se

SEJARAH IWAN FALS







Aku lahir tanggal 3 September 1961. Kata ibuku, ketika
aku berumur bulanan, setiap kali mendengar suara
adzan maghrib aku selalu menangis. Aku nggak tau
kenapa sampai sekarang pun aku masih
gambang menangis. Biar begini-begini, aku
orangnya lembut dan gampang tersentuh. Sebagai
contoh, menyaksikan berita di televisi yang
memberitakan ada orang sukses lalu
medapatkan penghargaan atas prestasinya, aku pun
bisa menangis. Melihat seorang ibu yang menunjukkan
cinta kasihnya pada anaknya, juga bisa membuat
aku tersentuh dan lalu menangsi.
Bicara perjalanan karir musikku, dimulai ketika aku
aktif ngamen di Bandung. Aku mulai ngamen ketika
berumur 13 tahun. Waktu itu aku masih SMP. Aku
belajar main gitar dari teman-teman nongkrongku.
Kalau mereka main gitar aku suka memperhatikan. Tapi
mau nanya malu. Suatu hari aku nekat memainkan gitar
itu. Tapi malah senarnya putus.
Aku dimarahi.


Sejak saat itu, gitar seperti terekam kuat dalam ingatanku. Kejadian itu begitu membekas
dalam ingatanku.

Dulu aku pernah sekolah di Jeddah, Arab Saudi, di KBRI selama 8 bulan. Kebetulan di sana
ada saudara orang tuaku yang nggak punya anak. Karena tinggal di negeri orang, aku merasakan
sangat membutuhkan hiburan. Hiburan satu-satunya bagiku adalah gitar yang kubawa dari Indonesia.
Saat itu ada dua lagu yang selalu aku mainkan, yaitu Sepasang Mata Bola dan Waiya.

Waktu pulang dari Jeddah pas musim Haji. Kalau di pesawat orang-orang pada bawa air zam-zam
aku cuma menenteng gitar kesayanganku. Dalam perjalanan dalam pesawat dari Jeddah
ke Indonesia, pengetahuan gitarku bertambah. Melihat ada anak kecil bawa gitar di pesawat,
membuat
seorang pramugari heran. Pramugari itu lalu menghampiriku dan meminjam gitarku. Tapi begitu
baru akan memainkan, pramugari itu heran. Soalnya suara gitarku fals. "Kok kayak gini
steman-nya?" tanyanya. Waktu itu, meski sudah bisa sedikit-sedikit aku memang belum bisa
nyetem gitar.
Setelah membetulkan gitarku, pramugari itu lalu mengajariku memainkan lagu Blowing in
the Wind-nya
Bob Dylan.

Waktu sekolah di SMP 5 Bandung aku juga
punya pengalaman menarik dengan gitar. Suatu
ketika, seorang guruku menanyakan apakah ada yang
bisa memainkan gitar. Meski belum begitu pintar, tapi
karena ada anak perempuan yang jago memainkan
gitar, aku menawarkan diri. "Gengsi dong," pikirku
waktu itu. Maka jadilah aku pemain gitar
di vokal grup sekolahku.

Kegandrunganku pada gitar terus berlanjut. Saat
itu teman-teman mainku juga suka memainkan gitar.
Biasanya mereka memainkan lagu-lagu Rolling Stones.
Melihat teman-temanku jago main gitar, aku jadi iri
sendiri. Aku ingin main gitar seperti mereka. Daripada
nggak diterima di pergaulan, sementara aku nggak
bisa memainkan lagu-lagu Rolling Stones, aku
nekat memainkan laguku sendiri. Biar jelek-jelek,
yang penting lagu ciptaanku sendiri, pikirku.

Untuk menarik perhatian teman-temanku, aku membuat lagu-lagu yang liriknya lucu, humor,
bercanda-canda, merusak lagu orang. Mulailah teman-temanku pada ketawa mendengarkan laguku.

Setelah merasa bisa bikin lagu, apalagi bisa bikin orang tertawa, timbul keinginan untuk
mencari pendengar lebih banyak. Kalau ada hajatan, kawinan, atau sunatan, aku datang
untuk menyanyi. Dulu manajernya Engkos, yang tukang bengkel sepeda motor. Karena kerja
di bengkel yang banyak didatangi orang, dia selalu tahu kalau ada orang yang punya hajatan.

Di SMP aku sudah merasakan betapa pengaruh musik begitu kuat. Mungkin karena aku nggak
punya uang, nggak dikasih kendaraan dari orang tua untuk jalan-jalan, akhirnya perhatianku
lebih banyak tercurah pada gitar. Sekolahku mulai nggak benar. Sering bolos, lalu pindah sekolah.

Aku merasakan gitar bisa menjawab kesepianku. Apalagi ketika sudah merasa bisa bikin lagu,
dapat duit dari ngamen, mulailah aku sombong. Tetapi sesungguhnya semuanya itu kulakukan
untuk mencari teman, agar diterima dalam pergaulan.

Suatu ketika ada orang datang ke Bandung dari Jakarta. Waktu itu aku baru sadar kalau ternyata
lagu yang kuciptakan sudah terkenal di Jakarta. Maksudku sudah banyak anak muda yang
memainkan laguku itu. Malah katanya ada yang mengakui lagu ciptaanku.

Sebelum orang Jakarta yang punya kenalan produser itu datang ke Bandung, aku sebetulnya
sudah pernah rekaman di Radio 8 EH. Aku bikin lagu lalu diputar di radio itu. Tapi radio itu kemudian
dibredel.

Setelah kedatangan orang Jakarta itu, atas anjuran teman-temanku, aku pergi ke Jakarta. Waktu
itu aku masih sekolah di SMAK BPK Bandung. Sebelum ke Jakarta aku menjual sepeda motorku
untuk membuat master. Aku tidak sendirian. Aku bersama teman-teman
dari Bandung: Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul.

Kami lalu rekaman. Ternyata kasetnya tidak laku. Ya, sudah, aku ngamen
lagi, kadang-kadang ikut festival. Setelah dapat juara di festival musik
country , aku ikut festival lagu humor. Kebetulan dapat nomor.
Oleh Arwah Setiawan (almarhum) lagu-lagu humorku lalu direkam,
diproduseri Handoko. Nama perusahaannya ABC Records. Aku rekaman
ramai-ramai, sama Pepeng (kini pembawa acara kuis Jari-jari, jadi
MC, dll), Krisna, dan Nana Krip. Tapi rekaman ini pun tak begitu sukses.
Tetap minoritas. Hanya dikonsumsi kalangan tertentu saja, seperti
anak-anak muda.

Akhirnya aku rekaman di Musica Studio. Sebelum ke Musica, aku sudah
rekaman sekitar 4 sampai 5 album. Setelah rekaman di Musica itu,
musikku mulai digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya,
musiknya ditangani Willy Soemantri.

(diambil dari iwanfals.co.id)



Nama asli: Virgiawan Listanto
Nama populer: Iwan Fals
Nama panggilan: Tanto
Tempat tgl. lahir: Jakarta, 3 September 1961
Alamat sekarang: Jl. Desa Leuwinanggung No. 19 Cimanggis,
Bogor Jawa Barat - Indonesia



Pendidikan:
SMP 5 Bandung,
SMAK BPK Bandung,
STP (Sekolah Tinggi Publisistik, sekarang IISIP),
Institut Kesenian Jakarta (IKJ)



Anak:
Galang Rambu Anarki (almarhum)
Anissa Cikal Rambu Basae
Rayya Rambu Robbani

Hobi: sepakbola, karate





Iwan Fals Selami Islam di Pesantren Pandanaran

“Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintang untuk aku anakmu. Ibuku sayang masih terus berjalan, walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah…”.
Alunan lagu yang mengajak setiap pendengar menghormati seorang ibu itu biasanya terdengar di tape, radio atau nada dering telepon genggam. Tapi malam itu, sang pelantun, Iwan Fals, membawakannya langsung di hadapan para santri Pesantren Sunan Pandanaran.
Kali ini, pemilik nama asli Virgiawan Listanto itu tidak sedang konser untuk memenuhi hasrat anak muda yang tenggelam dalam hura-hura. Tetapi bersama santri ingin menyelami nilai-nilai keislaman lewat lagu yang pernah ia ciptakan. Maka, lagu pembuka bertema Ibu ia bawakan untuk mengajak semua pendengar menjunjung tinggi harkat ibu yang begitu dihormati dalam ajaran Islam.
Malam itu, 26 April 2010, suasana di Komplek al-Khandaq memang berbeda dari hari-hari biasanya. Para santri melewati malam di tengah hingar-bingar suara musik rock yang dipadu dengan musik Jawa, racikan grup musik Ki Ageng Ganjur. Menurut Zastrouw al-Ngatawi, pimpinan Ki Ageng Ganjur, konser tersebut merupakan rangkaian dakwah menyebarkan ajaran Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.
Zastrouw menyampaikan pesan-pesan agama dalam bingkai ceramah budaya, sedangkan Bang Iwan, panggilan akrab Iwan Fals, melantunkan lagu-lagu bernafas keislaman. Perpaduan keduanya menghasilkan model dakwah “gaya baru”. Tetapi justru berhasil menyihir para santri, hingga mereka betah berlama-lama duduk termangu di atas rumput tanpa alas.
Sesaat sebelum Iwan Fals tampil di panggung, Zastrouw mengatakan bahwa esensi dari syair lagu Iwan selaras dengan ayat-ayat Al-Quran. “Kepekaan batin Mas Iwan melahirkan lagu-lagu yang selaras dengan ayat-ayat Al-Qur’an,” kata lelaki yang selalu mengenakan blangkon ini.
Zastrouw mengaitkan syair-syair lagu Iwan Fals dengan kisah-kisah yang masyhur di telinga umat Islam. Lagu Ibu, misalnya, mengingatkan kita pada hadis Nabi yang menyebut “ibu” sebanyak tiga kali, baru kemudian beliau menyebut “ayah” yang hanya sekali ketika ditanya tentang siapa orang yang paling berhak dihormati.
Setelah Zastrouw selesai menyampaikan nilai keislaman dalam lagu Ibu tersebut, Iwan pun keluar menuju panggung yang disambut teriakan dan tepuk tangan para santri dan OI (penggemar Iwan Fals).
Malam itu Iwan Fals tampil sangat sederhana. Ia hanya mengenakan kaos oblong putih, syal biru melilit di leher, plus celana bercorak batik. Tak ketinggalan, ia menenteng gitar dengan lubang resonansi menyerupai buah jeruk.
Saat melantunkan tembang Ibu, raut muka Iwan tampak sangat serius. Tidak sedikit pun senyum yang tersungging dari bibirnya. Boleh jadi, itulah perasaan terdalam yang ingin ia bagi kepada para pendengar.
KH Mu’tashim Billah, pengasuh Pesantren Pandanaran, mengaku takjub akan daya magis yang dimiliki seorang Iwan Fals. Beliau mengungkapkan, banyak santri yang seolah-olah ruhnya ikut bernyanyi ketika Iwan Fals beraksi di atas panggung.
Iwan Fals memang dikenal sebagai musisi yang menciptakan lagu untuk menyuarakan suara hati dan pikirannya. Ide dan pikiran yang berkecamuk di kepalanya ia tuangkan ke dalam lagu. Termasuk juga tentang pengalaman spiritualitas. Tak mengherankan jika lagu-lagu Iwan Fals terkini banyak mengangkat tema religi, bukan lagi tentang “pemberontakan” seperti dulu. Sebut saja Hadapi Saja, Doa dan Ya Allah Kami, dan sebagainya.
Dalam konser bertajuk Perjalanan Spiritual Iwan Fals malam itu, Iwan membawakan lima lagu bertema kemanusiaan. Usai membawakan lagu Ibu, ia menyanyikan lagu Siang Seberang Istana, disusul Tanam Siram Tanam, Dendam Damai dan diakhiri dengan Bento. Lagu Bento, menurut Zastrouw, mirip dengan kisah dalam Al-Qur’an tentang Qarun. Qarun adalah kroni Fir’aun yang kaya raya. Tetapi kekayaannya ia belanjakan untuk mendukung kezaliman. Akhirnya, ia pun dibenamkan oleh Allah ke dalam bumi.
Setelah menciptakan begitu banyak lagu yang sarat nilai hikmah, Iwan pun akhirnya melangkah ke dalam dunia yang lebih tinggi. Dunia spiritual. Ketika ditemui Suara Pandanaran, Iwan mengakui bahwa kunjungannya ke Ponpes Sunan Pandanaran ini untuk memperkaya jiwa.
“Saya terbentur cobaan-cobaan hidup yang membuat saya, mau tidak mau, harus mengadu kepada Tuhan. Itulah mengapa saya berkunjung ke berbagai pesantren dan berziarah ke makam para ulama”, ungkap Iwan.
Dalam kunjungannya itu pun, Iwan tak lupa menziarahi makam KH Mufid Mas’ud, pendiri Ponpes Sunan Pandanaran. “Ketika berziarah ke makam ulama, kita membaca Fatihah, alif lam mim dan seterusnya, sehingga batin kita menjadi adem dan damai. Dari ziarah ini, kita juga akan lebih menghormati para leluhur,” jelas Iwan mengungkapkan pengalamannya.
 kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintang untuk aku anakmu. Ibuku sayang masih terus berjalan, walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah…”.
Alunan lagu yang mengajak setiap pendengar menghormati seorang ibu itu biasanya terdengar di tape, radio atau nada dering telepon genggam. Tapi malam itu, sang pelantun, Iwan Fals, membawakannya langsung di hadapan para santri Pesantren Sunan Pandanaran.
Kali ini, pemilik nama asli Virgiawan Listanto itu tidak sedang konser untuk memenuhi hasrat anak muda yang tenggelam dalam hura-hura. Tetapi bersama santri ingin menyelami nilai-nilai keislaman lewat lagu yang pernah ia ciptakan. Maka, lagu pembuka bertema Ibu ia bawakan untuk mengajak semua pendengar menjunjung tinggi harkat ibu yang begitu dihormati dalam ajaran Islam.
Malam itu, 26 April 2010, suasana di Komplek al-Khandaq memang berbeda dari hari-hari biasanya. Para santri melewati malam di tengah hingar-bingar suara musik rock yang dipadu dengan musik Jawa, racikan grup musik Ki Ageng Ganjur. Menurut Zastrouw al-Ngatawi, pimpinan Ki Ageng Ganjur, konser tersebut merupakan rangkaian dakwah menyebarkan ajaran Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.
Zastrouw menyampaikan pesan-pesan agama dalam bingkai ceramah budaya, sedangkan Bang Iwan, panggilan akrab Iwan Fals, melantunkan lagu-lagu bernafas keislaman. Perpaduan keduanya menghasilkan model dakwah “gaya baru”. Tetapi justru berhasil menyihir para santri, hingga mereka betah berlama-lama duduk termangu di atas rumput tanpa alas.
Sesaat sebelum Iwan Fals tampil di panggung, Zastrouw mengatakan bahwa esensi dari syair lagu Iwan selaras dengan ayat-ayat Al-Quran. “Kepekaan batin Mas Iwan melahirkan lagu-lagu yang selaras dengan ayat-ayat Al-Qur’an,” kata lelaki yang selalu mengenakan blangkon ini.
Zastrouw mengaitkan syair-syair lagu Iwan Fals dengan kisah-kisah yang masyhur di telinga umat Islam. Lagu Ibu, misalnya, mengingatkan kita pada hadis Nabi yang menyebut “ibu” sebanyak tiga kali, baru kemudian beliau menyebut “ayah” yang hanya sekali ketika ditanya tentang siapa orang yang paling berhak dihormati.
Setelah Zastrouw selesai menyampaikan nilai keislaman dalam lagu Ibu tersebut, Iwan pun keluar menuju panggung yang disambut teriakan dan tepuk tangan para santri dan OI (penggemar Iwan Fals).
Malam itu Iwan Fals tampil sangat sederhana. Ia hanya mengenakan kaos oblong putih, syal biru melilit di leher, plus celana bercorak batik. Tak ketinggalan, ia menenteng gitar dengan lubang resonansi menyerupai buah jeruk.
Saat melantunkan tembang Ibu, raut muka Iwan tampak sangat serius. Tidak sedikit pun senyum yang tersungging dari bibirnya. Boleh jadi, itulah perasaan terdalam yang ingin ia bagi kepada para pendengar.
KH Mu’tashim Billah, pengasuh Pesantren Pandanaran, mengaku takjub akan daya magis yang dimiliki seorang Iwan Fals. Beliau mengungkapkan, banyak santri yang seolah-olah ruhnya ikut bernyanyi ketika Iwan Fals beraksi di atas panggung.
Iwan Fals memang dikenal sebagai musisi yang menciptakan lagu untuk menyuarakan suara hati dan pikirannya. Ide dan pikiran yang berkecamuk di kepalanya ia tuangkan ke dalam lagu. Termasuk juga tentang pengalaman spiritualitas. Tak mengherankan jika lagu-lagu Iwan Fals terkini banyak mengangkat tema religi, bukan lagi tentang “pemberontakan” seperti dulu. Sebut saja Hadapi Saja, Doa dan Ya Allah Kami, dan sebagainya.
Dalam konser bertajuk Perjalanan Spiritual Iwan Fals malam itu, Iwan membawakan lima lagu bertema kemanusiaan. Usai membawakan lagu Ibu, ia menyanyikan lagu Siang Seberang Istana, disusul Tanam Siram Tanam, Dendam Damai dan diakhiri dengan Bento. Lagu Bento, menurut Zastrouw, mirip dengan kisah dalam Al-Qur’an tentang Qarun. Qarun adalah kroni Fir’aun yang kaya raya. Tetapi kekayaannya ia belanjakan untuk mendukung kezaliman. Akhirnya, ia pun dibenamkan oleh Allah ke dalam bumi.
Setelah menciptakan begitu banyak lagu yang sarat nilai hikmah, Iwan pun akhirnya melangkah ke dalam dunia yang lebih tinggi. Dunia spiritual. Ketika ditemui Suara Pandanaran, Iwan mengakui bahwa kunjungannya ke Ponpes Sunan Pandanaran ini untuk memperkaya jiwa.
“Saya terbentur cobaan-cobaan hidup yang membuat saya, mau tidak mau, harus mengadu kepada Tuhan. Itulah mengapa saya berkunjung ke berbagai pesantren dan berziarah ke makam para ulama”, ungkap Iwan.
Dalam kunjungannya itu pun, Iwan tak lupa menziarahi makam KH Mufid Mas’ud, pendiri Ponpes Sunan Pandanaran. “Ketika berziarah ke makam ulama, kita membaca Fatihah, alif lam mim dan seterusnya, sehingga batin kita menjadi adem dan damai. Dari ziarah ini, kita juga akan lebih menghormati para leluhur,” jelas Iwan mengungkapkan pengalamannya.
but saja Hadapi Saja, Doa dan Ya Allah Kami, dan sebagainya.
Dalam konser bertajuk Perjalanan Spiritual Iwan Fals malam itu, Iwan membawakan lima lagu bertema kemanusiaan. Usai membawakan lagu Ibu, ia menyanyikan lagu Siang Seberang Istana, disusul Tanam Siram Tanam, Dendam Damai dan diakhiri dengan Bento. Lagu Bento, menurut Zastrouw, mirip dengan kisah dalam Al-Qur’an tentang Qarun. Qarun adalah kroni Fir’aun yang kaya raya. Tetapi kekayaannya ia belanjakan untuk mendukung kezaliman. Akhirnya, ia pun dibenamkan oleh Allah ke dalam bumi.
Setelah menciptakan begitu banyak lagu yang sarat nilai hikmah, Iwan pun akhirnya melangkah ke dalam dunia yang lebih tinggi. Dunia spiritual. Ketika ditemui Suara Pandanaran, Iwan mengakui bahwa kunjungannya ke Ponpes Sunan Pandanaran ini untuk memperkaya jiwa.
“Saya terbentur cobaan-cobaan hidup yang membuat saya, mau tidak mau, harus mengadu kepada Tuhan. Itulah mengapa saya berkunjung ke berbagai pesantren dan berziarah ke makam para ulama”, ungkap Iwan.
Dalam kunjungannya itu pun, Iwan tak lupa menziarahi makam KH Mufid Mas’ud, pendiri Ponpes Sunan Pandanaran. “Ketika berziarah ke makam ulama, kita membaca Fatihah, alif lam mim dan seterusnya, sehingga batin kita menjadi adem dan damai. Dari ziarah ini, kita juga akan lebih menghormati pasumberra leluhur,” jelas Iwan mengungkapkan pengalamannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar